Showing posts with label Bicara Agama. Show all posts
Showing posts with label Bicara Agama. Show all posts

Tuesday, February 15, 2011

KEKASIHKU~

Kasihku, 
Lahirmu dijanjikan Allah,
Membawa rahmat sekalian alam,
Engkaulah penyeri engkaulah purnama,
Yang menerangi hidup manusia...

Ya Rasulullah~

~SELAMAT MENYAMBUT MAULIDUR RASUL~


Wednesday, December 22, 2010

Terpisah Dari Allah Terpinggir Dari Manusia

     Terpisah Dari Allah Terkadang kita termangu sendirian sambil hati bercakap-cakap dan tertanya-tanya mencari jawapan yang tidak pasti. “Isyy.., kenapalah rasa sunyi sangat hati aku ni?”, “Hmmph, kenapalah rasa macam diri ini jauh sangat dari Allah. Ini tak kena, itu tak kena. Semuanya rasa serba tak kena. Apakah Allah sudah berlepas tangan dariku? Astaghfirullahal ‘Azhim. Rasa-rasa sebegitu acapkali menjengah dan menghantui diri kita, tidak kira siapa, dan ia tidak lain berpunca dari diri kita sendiri. Cuba kita cari dan suluh puncanya.  Dosa dan maksiat yang kita lakukan selama ini, itulah punca dan sebab musababnya. Maka, sama ada sedar atau tidak, dosa dan maksiat telah menjadikan hubungan kita dengan Allah semakin merenggang dan langsung menjauhkan kita dari limpahan rahmat-Nya.

      Sungguh jiwa kita tidak boleh menerima petaka ini dan hati nurani kita berasa cukup tidak selesa dengan situasi ini. Walhal terpisah dari ibu kandung sendiri pun sudah terasa haru dan tidak keruan. Inikan pula terpisah dan jauh dari rahmat Allah s.w.t., Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Seandainya dikumpulkan semua kelazatan dan kenikmatan duniawi ini dengan satu tujuan untuk menggembirakan hati kita dan mengeluarkannya dari beban penderitaan kerana terpisah dari rahmat Allah itu, nescaya ia tidak berupaya menghilangkan segala kedukaan dan penderitaan tersebut, sebaliknya ia hanya akan menambah bebanan dan tekanan pada jiwa yang sudah sedia terseksa.

      Ahh.., penderitaan dan kepahitan kerana berjauhan dan terpisah dari Allah ini hanya dapat dirasai dan ditangisi oleh insan yang hidup hati nuraninya. Namun tidak bagi mereka yang telah mati hatinya. Orang yang mati hatinya tidak lebih bagai bangkai yang berjalan. Ia tidak sensitif dengan apa-apa lagi. Benar sekali ungkapan si bijaksana yang menyebutkan: “Kelukaan tidak memberikan sebarang kesakitan lagi kepada hati yang telah mati.” Bagaimana diri kita semua kala ini? Pernahkah kita merasai yang diri ini amat jauh dari Allah s.w.t. iaitu tatkala tercebur ke dalam kancah dosa dan maksiat? Memang pernahlah jawabnya. Kerana dosa, kita yang telah Islam ini pun boleh terlempar jauh dan terpinggir dari rahmat Allah s.w.t., bayangkan betapa jauh dan sayupnya rahmat dan pandangan Allah pada seseorang yang kafir dan syirik pada-Nya?

      Hakikatnya kita sangat memerlukan Allah di dalam hidup kita. Kita tidak rela terpisah dari pandangan dan rahmat Allah walaupun sesaat cuma. Kalau Allah mula berlepas tangan dari kita, bermakna bermulalah detik kemusnahan kita. Ingat! Bahawa syaitan dan nafsu sentiasa berusaha mewujudkan jaluran dosa yang menjadi kabut hijab antara hamba dan Allah yang Esa. Terpinggir dari manusia Sudahlah menderita terpisah berjauhan dari Allah, dosa juga melakar kepiluan yang amat kerana terpinggir dari manusia. Manusia yang bagaimana? Manusia yang beriman, bertakwa dan beramal soleh. Sekali lagi, dia bukan dipinggir mahupun dipisahkan oleh mereka. Sebaliknya dia sendiri menjadi terpisah dan terpinggir dari kelompok ‘orang-orang Allah’ itu kerana bahana dosa yang digulitinya.  Kerana keterpinggiran itu, dia akan semakin jauh dari majlis-majlis mereka. Kerana kejauhan itu, dia tidak dapat mengambil faedah-faedah kebenaran dari mereka lagi. Yang berlaku, dia semakin mendekatkan diri dengan kumpulan syaitan menurut kadar kejauhan yang dirasai dan dialami olehnya.

      Kini, hari demi hari terasa semakin menekan dan menyesak di dalam hati. Tidak semena-mena, akibat dosa itu, perasaan benci dan amarah menyelinap masuk ke dalam hatinya. Lalu ia membuak-buak bagai dirasuk hantu syaitan. Tidak fasal-fasal anak dan isterinya dibenci. Malah, kerana bahana dosa itu, ia sampai ke tahap benci terhadap dirinya yang sebenar. Seorang ulama menyingkapkan: “Jika aku melakukan maksiat kepada Allah, akan terlihatlah kesannya pada kenderaan dan isteriku.”

      Kisah tiga sahabat yang dihukum Allah kerana tidak menghadirkan diri dalam peperangan Tabuk tanpa keuzuran syarie, wajar menjadi teladan buat kita semua. Dalam tempoh tiga bulan, mereka merasai kehidupan yang cukup pahit dan menyeksakan. Sudahlah dimurkai Allah s.w.t., mereka juga turut dipinggirkan oleh Rasulullah s.a.w. dan seluruh umat Islam.  Selama tempoh itu, mereka menangis siang dan malam, tidak henti-henti memohon keampunan Allah, sehingga datanglah keampunan Allah. Kenapa mereka menangis dan merintih kepada Allah? Kerana mereka tidak mahu terpisah dari rahmat-Nya. Sekali lagi, itulah kesan dosa dan ia hanya dirasai dan dideritai oleh mereka yang punyai mata hati.


Sekadar perkongsian dan luahan,

~Bila Ku Berlagu~


Sunday, December 19, 2010

Al-Mu'minun

Al-Mu'minun


[1]
Sesungguhnya berjayalah orang-orang yang beriman,
[2]
Iaitu mereka yang khusyuk dalam sembahyangnya;
[3]
Dan mereka yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang sia-sia;
[4]
Dan mereka yang berusaha membersihkan hartanya (dengan menunaikan zakat harta itu);
[5]
Dan mereka yang menjaga kehormatannya, -
[6]
Kecuali kepada isterinya atau hamba sahayanya maka sesungguhnya mereka tidak tercela: -
[7]
Kemudian, sesiapa yang mengingini selain dari yang demikian, maka merekalah orang-orang yang melampaui batas;
[8]
Dan mereka yang menjaga amanah dan janjinya;
[9]
Dan mereka yang tetap memelihara sembahyangnya;
[10]
Mereka itulah orang-orang yang berhak mewarisi -
[11]
Yang akan mewarisi Syurga Firdaus; mereka kekal di dalamnya.

Sunday, October 10, 2010

Pudarnya Pesona Cleopatra - Habiburrahman El-Shirazy

     Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan kandungan aku telahdijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.” Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu” kata ibu.“Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu” , ucap beliau dengan nada mengiba. Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya.Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran)sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun. Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali. Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, “cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesirtitisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkungindah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah.
     Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pesta pun meriah dengan empat group rebana. Lantunan shalawat Nabi pun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai.Rabbighfir li wa liwalidayya! Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya. Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku.
     Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang. Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidupberkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat,rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja. Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia. Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihana pun merasakan hal yang sama, karena ia orang yangberpendidikan, maka dia pun tanya, tetapi kujawab ” tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga” Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil ‘mbak’, ” kenapa mas memanggilku mbak, akukan istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku” tanyanya dengan guratan wajah yang sedih.“wallahu a’lam” jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, “Kalau mas tidak mencintaiku,tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad nikah? Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia ini”. Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka karena Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.
     Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi, Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. “Mas tidak apa-apa” tanyanya dengan perasaan kuatir. “Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih” lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. “Mas airnya sudah siap” kata Raihana. Aku tak bicara sepatahkatapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu membawa handuk. “Mas aku buatkan wedang jahe” Aku diam saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan. Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. ” Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?” Tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar. “Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang haruskulakukan untuk membantu Mas”. "Biasanya dikerokin” jawabku lirih. ” Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin” sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadismesir titisan Cleopatra. Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di istananya.” Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan denganmu” kata Ratu Cleopatra. ” Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu”. Aku mempersiapkansegalanya. Tepat pukul 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian. Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba ” Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum sholat Isya” kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa. ” Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya” lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam. Meskipun cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidaksuka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah,bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya.
     Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.” Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau kita yang dieluk elukan keluarga tidak datang” Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang jahe. Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. ” Maaf..maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana,” lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruangkerja. ” Mbak! Eh maaf, maksudku D..Din..Dinda Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. ” Ya Mas!” sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia dipanggil “dinda”. ” Matanya sedikit berbinar. “Te..terima kasih Di..dinda, kita berangkat bareng ke sana, habis sholat dhuhur, insya Allah,” ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan. Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. ”Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda siapkan?Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?”.Hana begitu bahagia. Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki maki diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yangkuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci dirikusendiri di dunia ini.
     Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga. “Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan bundaku serta kerabat yang lain.Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal. Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik dikampusnyadan hafal Al Quran lantas disebut ideal? Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya,saling memiliki rasa cinta yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia.Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki Raihana. Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengansikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang keturunan. ”Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu” kata ibuku. ” Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?” sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya. Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku.Allah Maha Kuasa.
     Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis.Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku bertanya” Mana tanggung jawabmu!” Aku hanya diam dan mendesah sedih. ” Entahlah, betapa sulit akumenemukan cinta” gumamku. Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasan kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, ” Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal, no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita”.
     Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari Aku tidak bertemudengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya.Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir. Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat aku pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku benar-benar lemas. Aku muntah muntah, menggigil, kepala pusing dan perut mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum sholat Isyadan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh. Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincangdengan beliau tentang mesir.
     Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakansatu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. “Apakah kamu sudah menikah?” kata Pak Qalyubi. “Alhamdulillah, sudah” jawabku. ” Dengan orang mana?. ”Orang Jawa”. ” Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?”. “Pernah, alhamdulillah dia sarjanadan hafal Al Quran”. ” Kau sangat beruntung, tidak sepertiku”. ” Kenapa dengan Bapak?” ”Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu,tentu batinku tidak merana seperti sekarang”. ” Bagaimana itu bisa terjadi?”. “Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dan karena terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predikat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia. Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya bersumpah tidak akan menikah dengan siapapun kecuali dia. Ternyataperasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkandengan menikahinya. Saya memilih yang kedua.Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, sama sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal AlQuran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan Yasmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetapi saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi Yasmin.Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir. Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang.
     Begitu selesai S1 saya kembali ke Medan, saya minta agarasset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia. Kami langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan Yasmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta Yasmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali namun Yasmin tidak bisa. Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi. Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Sayatidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya pengen rendang, saya harus kewarung. Yasmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia. Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya. Jika adasedikit letupan, maka rumah seperti neraka.
     Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta Yasmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir. Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan. ” Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir”. KataYasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal. Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satu pun keluarganya yang membelaku. Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi berita bohong. Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang”.
     Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku, tak terasa sudah dua bulan aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri sepertidia. Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapanbulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya.Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke toko baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi kekontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal. Dibawah kasur itu kutemukan kertas Merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini,rasanya aku belum pernah membuat surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku serong. Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan ya Rabbii ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yangselama ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunyaakan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. HanyaAllah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya. Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.
     “Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena karunia-Mu yang agung ini,niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahankesabaran dalam diri hamba” tulis Raihana.Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa” Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini kehadirat-Mu. YaAllah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapabegitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasacinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena kelalaiannya. Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetapmenyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya.Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlahrasa cinta ini kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, MahaSuci Engkau”.
     Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang. Wajahnya yang baby face dante duh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta. Dalam keharuan terasa ada angin sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi Cintaku dengan Raihana. Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes sepanjang jalan.
     Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan ku usap air mataku. Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu- sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis. ” Mana Raihana Bu?”. Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi.” Raihana…istrimu. .istrimu dan anakmu yang dikandungnya” . ” Ada apa dengan dia”. ” Dia telah tiada”. ” Ibu berkata apa!”. ” Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu. Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhionya” .Hatiku bergetar hebat. ” kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?”. “Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Jadi Maafkanlah kami”.Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru dikuburan pinggir desa. Diatas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis disana. Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku inginRaihana hidup kembali. Dunia tiba-tiba gelap semua ……..

Sunday, October 3, 2010

KELEBIHAN UMAT MUHAMMAD

Disebutkan bahawa Nabi Adam A.S telah berkata, "Sesungguhnya Allah S.W.T telah memberikan kepada umat Muhammad S.A.W empat kemuliaan yang tidak diberikan kepadaku:

·Taubatku hanya diterima di kota Mekah, sementara taubat umat Nabi Muhammad S.A.W diterima di sebarang tempat oleh Allah S.W.T.

·Pada mulanya aku berpakaian, tetapi apabila aku berbuat derhaka kepada Allah S.W.T, maka Allah S.W.T telah menjadikan aku telanjang. Umat Muhammad S.A.W membuat derhaka dengan telanjang, tetapi Allah S.W.T memberi mereka pakaian.

·Ketika aku telah berderhaka kepada Allah S.W.T, maka Allah S.W.T telah memisahkan aku dengan isteriku. Tetapi umat Muhammad S.A.W berbuat derhaka, Allah S.W.T tidak memisahkan isteri mereka.

·Memang benar aku telah derhaka kepada Allah S.W.T dalam syurga dan aku dikeluarkan dari syurga, tetapi umat Muhammad S.A.W durhaka kepada Allah akan dimasukkan ke dalam syurga apabila mereka bertaubat kepada Allah S.A.W.

Wednesday, September 8, 2010

Batu-batu Aneh

Dalam sebuah hadis menceritakan, pada zaman dahulu ada seorang lelaki wukuf di Arafah. Dia berhenti di lapangan luas itu. Pada waktu itu orang sedang melakukan ibadat haji. Wukuf di Arafah adalah rukun haji yang sangat penting. Bahkan wukuf di Arafah itu disebut sebagai haji yang sebenarnya kerana apabila seorang itu berwukuf di padang Arafah dianggap hajinya telah sempurna walaupun yang lainnya tidak sempat dilakukan.
Sabda Rasulullah mengatakan :

· "Alhajju Arafat" (Haji itu wukuf di Arafah)

Rupanya lelaki itu tadi masih belum mengenali Islam dengan lebih mendalam. Masih dalam istilah 'muallaf'. Semasa dia berada di situ, dia telah mengambil tujuh biji batu lalu berkata pada batu itu :

· "Hai batu-batu, saksikanlah olehmu bahawa aku bersumpah bahawa tidak ada tuhan melainkan Allah dan Muhammad itu pesuruh Allah."

Setelah dia berkata begitu dia pun tertidur di situ. Dia meletakkan ketujuh-tujuh batu itu di bawah kepalanya. Tidak lama kemudian dia bermimpi seolah-olah telah datang kiamat. Dalam mimpi itu jyga dia telah diperiksa segala dosa-dosa dan pahalanya oleh Tuhan. Setelah selesai pemeriksaan itu ternyata dia harus masuk ke dalam neraka. Maka dia pun pergi ke neraka dan hendak memasuki salah satu daripada pintu-pintunya.
Tiba-tiba seketika batu kecil yang dikumpulnya tadi datang dekat pintu neraka tersebut. Tetapi mereka tidak sanggup rupanya. Malaikat azab telah berada di situ. Semua malaikat itu menolaknya masuk ke pintu neraka tersebut. Tapi sanggup rupanya. Kemudian dia pun pergi ke pintu lain. Para malaikat itu tetap berusaha hendak memasukkannya ke dalam neraka tapi tidak berjaya kerana batu mengikut ke mana sahaja dia pergi.

Akhirnya habislah ketujuh pintu neraka didatanginya. Para malaikat yang bertindak akan menyiksa orang-orang yang masuk neraka berusaha sekuat tenaga untuk menolak lelaki itu dalam neraka tetapi tidak berjaya. Sampai di pintu neraka nombor tujuh, neraka itu tidak mahu menerimanya kerana ada batu yang mengikutinya. Ketujuh-tujuh batu itu seolah-olah membentengi lelaki itu daripada memasuki neraka. Kemudian dia naik ke Arasy di langit yang ketujuh. Di situlah Allah berfirman yang bermaksud :

· "Wahai hambaku, aku telah menyaksikan batu-batu yang engkau kumpulkan di padang Arafah. Aku tidak akan menyia-nyiakan hakmu. Bagaimana aku akan menyia-nyiakan hakmu sedangkan aku telah menyaksikan bunyi 'syahadat' yang engkau ucapkan itu. Sekarang masuklah engkau ke dalam syurga."

Sebaik sahaja dia menghampiri pintu syurga itu, tiba-tiba pintu syurga itupun terbuka lebar. Rupanya kunci syurga itu adalah kalimat syahadat yang diucapkannya dahulu.

Kisah Malaikat Jibril dan Malaikat Mikail menangis

Dalam sebuah kitab karangan Imam al-Ghazali menyebutkan bahawa iblis itu sesungguhnya namanya disebut sebagai al-Abid (ahli ibadah) pada langit yang pertama, pada langit yang keduanya disebut az-Zahid. Pada langit ketiga, namanya disebut al-Arif. Pada langit keempat, namanya adalah al-Wali. Pada langit kelima, namanya disebut at-Taqi. Pada langit keenam namanya disebut al-Kazin. Pada langit ketujuh namanya disebut Azazil manakala dalam Luh Mahfudz, namanya ialah iblis.

Dia (iblis) lupa akibat urusannya. Maka Allah S.W.T telah memerintahkannya sujud kepada Adam. Lalu iblis berkata, "Adakah Engkau mengutamakannya daripada aku, sedangkan aku lebih baik daripadanya. Engkau jadikan aku daripada api dan Engkau jadikan Adam daripada tanah."
Lalu Allah S.W.T berfirman yang maksudnya, "Aku membuat apa yang aku kehendaki." Oleh kerana iblis memandang dirinya penuh keagungan, maka dia enggan sujud kepada Adam A.S kerana bangga dan sombong.
Dia berdiri tegak sampai saatnya malaikat bersujud dalam waktu yang berlalu. Ketika para malaikat mengangkat kepala mereka, mereka mendapati iblis tidak sujud sedang mereka telah selesai sujud. Maka para malaikat bersujud lagi bagi kali kedua kerana bersyukur, tetapi iblis tetap angkuh dan enggan sujud. Dia berdiri tegak dan memaling dari para malaikat yang sedang bersujud. Dia tidak ingin mengikut mereka dan tidak pula dia merasa menyesal atas keengganannya.

Kemudian Allah S.W.T merubahkan mukanya pada asalnya yang sangat indah cemerlangan kepada bentuk seperti babi hutan. Allah S.W.T membentukkan kepalanya seperti kepala unta, dadanya seperti daging yang menonjol di atas punggung, wajah yang ada di antara dada dan kepala itu seperti wajah kera, kedua matanya terbelah pada sepanjang permukaan wajahnya. Lubang hidungnya terbuka seperti cerek tukang bekam, kedua bibirnya seperti bibir lembu, taringnya keluar seperti taring babi hutan dan janggut terdapat sebanyak tujuh helai.

Setelah itu, lalu Allah mengusirnya dari syurga, bahkan dari langit, dari bumi dan ke beberapa jazirah. Dia tidak akan masuk ke bumi melainkan dengan cara sembunyi. Allah S.W.T melaknatinya sehingga ke hari kiamat kerana dia menjadi kafir. Walaupun iblis itu pada sebelumnya sangat indah cemerlang rupanya, mempunyai sayap emapt, banyak ilmu, banyak ibadah serta menjadi kebanggan para malaikat dan pemukanya, dan dia juga pemimpin para malaikat karubiyin dan banyak lagi, tetapi semua itu tidak menjadi jaminan sama sekali baginya.

Ketika Allah S.W.T membalas tipu daya iblis, maka menangislah Jibril A.S dan Mikail. Lalu Allah S.W.T berfirman yang bermaksud, "Apakah yang membuat kamu menangis?" Lalu mereka menjawab, "Ya Allah! Kami tidaklah aman dari tipu dayamu."
Firman Allah bagi bermaksud, "Begitulah aku. Jadilah engkau berdua tidak aman dari tipu dayaku."
Setelah diusir, maka iblis pun berkata, "Ya Tuhanku, Engkau telah mengusir aku dari Syurga disebabkan Adam, dan aku tidak menguasainya melainkan dengan penguasaan-Mu."

Lalu Allah berfirman yang bermaksud, "Engkau dikuasakan atas dia, yakni atas anak cucunya, sebab para nabi adalah maksum."
Berkata lagi iblis, "Tambahkanlah lagi untukku." Allah berfirman yang maksudnya, "Tidak akan dilahirkan seorang anak baginya kecuali tentu dilahirkan untukmu dua padanya."
Berkata iblis lagi, "Tambahkanlah lagi untukku." Lalu Allah berfirman dengan maksud, "Dada-dada mereka adalah rumahmu, engkau berjalan di sana sejalan dengan peredaran darah."
Berkata iblis lagi, "Tambahkanlah lagi untukku." Maka Allah berfirman lagi yang bermaksud, "Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukan yang berjalan kaki, ertinya mintalah tolong menghadapi mereka dengan pembantu-pembantumu, baik yang naik kuda mahupun yang berjalan kaki. Dan berserikatlah dengan mereka pada harta, iaitu mendorong mereka mengusahakannya dan mengarahkannya ke dalam haram."

"Dan pada anak-anak, iaitu dengan menganjurkan mereka dalam membuat perantara mendapat anak dengan cara yang dilarang, seperti melakukan senggama dalam masa haid, berbuat perkara-perkara syirik mengenai anak-anak itu dengan memberi nama mereka Abdul Uzza, menyesatkan mereka dengan cara mendorong ke arah agama yang batil, mata pencarian yang tercela dan perbuatan-perbuatan yang jahat dan berjanjilah mereka." (Hal ini ada disebutkan dalamsurah al-Isra ayat 64 yang bermaksud : "Gerakkanlah orang yang engkau kuasai di antara mereka dengan suara engkau dan kerahkanlah kepada mereka tentera engkau yang berkuda dan yang berjalan kaki dan serikanlah mereka pada harta dan anak-anak dan berjanjilah kepada mereka. Tak ada yang dijanjikan iblis kepada mereka melainkan (semata-mata) tipuan."

DI ATAS SEJADAH CINTA

KOTA KUFAH terang oleh sinar purnama. Semilir angin yang bertiup dari utara membawa hawa sejuk. Sebagian rumah telah menutup pintu dan jendelanya. Namun geliat hidup kotaKufah masih terasa.Di serambi masjid Kufah, seorang pemuda berdiri tegap menghadap kiblat. Kedua matanyamemandang teguh ke tempat sujud. Bibirnya bergetar melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Hatidan seluruh gelegak jiwanya menyatu dengan Tuhan, Pencipta alam semesta. Orang-orangmemanggilnya “Zahid” atau “Si Ahli Zuhud”, karena kezuhudannya meskipun ia masih muda.Dia dikenal masyarakat sebagai pemuda yang paling tampan dan paling mencintai masjid di kotaKufah pada masanya. Sebagian besar waktunya ia habiskan di dalam masjid, untuk ibadah danmenuntut ilmu pada ulama terkemuka kota Kufah. Saat itu masjid adalah pusat peradaban, pusatpendidikan, pusat informasi dan pusat perhatian.Pemuda itu terus larut dalam samudera ayat Ilahi. Setiap kali sampai pada ayat-ayat azab,tubuh pemuda itu bergetar hebat. Air matanya mengalir deras. Neraka bagaikan menyala-nyaladihadapannya. Namun jika ia sampai pada ayat-ayat nikmat dan surga, embun sejuk dari langitterasa bagai mengguyur sekujur tubuhnya. Ia merasakan kesejukan dan kebahagiaan. Ia bagaimencium aroma wangi para bidadari yang suci.Tatkala sampai pada surat Asy Syams, ia menangis,“fa alhamaha fujuuraha wa taqwaaha.qad aflaha man zakkaaha.wa qad khaaba man dassaaha…”(maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaan,sesungguhnya, beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya…)Hatinya bertanya-tanya. Apakah dia termasuk golongan yang mensucikan jiwanya. Ataukahgolongan yang mengotori jiwanya? Dia termasuk golongan yang beruntung, ataukah yangmerugi?Ayat itu ia ulang berkali-kali. Hatinya bergetar hebat. Tubuhnya berguncang. Akhirnya ia pingsan.***Sementara itu, di pinggir kota tampak sebuah rumah mewah bagai istana. Lampu-lampuyang menyala dari kejauhan tampak berkerlap-kerlip bagai bintang gemintang. Rumah itu milikseorang saudagar kaya yang memiliki kebun kurma yang luas dan hewan ternak yang takterhitung jumlahnya.Dalam salah satu kamarnya, tampak seorang gadis jelita sedang menari-nari riang gembira.Wajahnya yang putih susu tampak kemerahan terkena sinar yang terpancar bagai tiga lenterayang menerangi ruangan itu. Kecantikannya sungguh memesona. Gadis itu terus menari sambilmendendangkan syair-syair cinta,“in kuntu ‘asyiqatul lail fa ka’simusyriqun bi dhau’wal hubb al wariq…”(jika aku pencinta malam makagelasku memancarkan cahayadan cinta yang mekar…)***Gadis itu terus menari-nari dengan riangnya. Hatinya berbunga-bunga. Di ruangan tengah,kedua orangtuanya menyungging senyum mendengar syair yang didendangkan putrinya. Sangibu berkata, “Abu Afirah, putri kita sudah menginjak dewasa. Kau dengarkanlah baik-baik syairsyairyang ia dendangkan.”“Ya, itu syair-syair cinta. Memang sudah saatnya dia menikah. Kebetulan tadi siang di pasaraku berjumpa dengan Abu Yasir. Dia melamar Afirah untuk putranya, Yasir.”“Bagaimana, kau terima atau…?”“Ya jelas langsung aku terima. Dia ‘kan masih kerabat sendiri dan kita banyak berhutangbudi padanya. Dialah yang dulu menolong kita waktu kesusahan. Di samping itu Yasir itu gagahdan tampan.”“Tapi bukankah lebih baik kalau minta pendapat Afirah dulu?”“Tak perlu! Kita tidak ada pilihan kecuali menerima pinangan ayah Yasir. Pemuda yangpaling cocok untuk Afirah adalah Yasir.”“Tapi, engkau tentu tahu bahwa Yasir itu pemuda yang tidak baik.”“Ah, itu gampang. Nanti jika sudah beristri Afirah, dia pasti juga akan tobat! Yang pentingdia kaya raya.”***Pada saat yang sama, di sebuah tenda mewah, tak jauh dari pasar Kufah. Seorang pemudatampan dikelilingi oleh teman-temannya. Tak jauh darinya seorang penari melenggak lenggokantubuhnya diiringi suara gendang dan seruling.“Ayo bangun, Yasir. Penari itu mengerlingkan matanya padamu!” bisik temannya.“Be…benarkah?”“Benar. Ayo cepatlah. Dia penari tercantik kota ini. Jangan kau sia-siakan kesempatan ini,Yasir!”“Baiklah. Bersenang-senang dengannya memang impianku.”Yasir lalu bangkit dari duduknya dan beranjak menghampiri sang penari. Sang penarimengulurkan tangan kanannya dan Yasir menyambutnya. Keduanya lalu menari-nari diiringiirama seruling dan gendang. Keduanya benar-benar hanyut dalam kelenaan. Dengan gerakanmesra penari itu membisikkan sesuatu ketelinga Yasir,“Apakah Anda punya waktu malam ini bersamaku?”Yasir tersenyum dan menganggukan kepalanya. Keduanya terus menari dan menari. Suaragendang memecah hati. Irama seruling melengking-lengking. Aroma arak menyengat nurani.Hati dan pikiran jadi mati.***Keesokan harinya.Usai shalat dhuha, Zahid meninggalkan masjid menuju ke pinggir kota. Ia hendak menjenguksaudaranya yang sakit. Ia berjalan dengan hati terus berzikir membaca ayat-ayat suci Al-Quran.Ia sempatkan ke pasar sebentar untuk membeli anggur dan apel buat saudaranya yang sakit.Zahid berjalan melewati kebun kurma yang luas. Saudaranya pernah bercerita bahwa kebunitu milik saudagar kaya, Abu Afirah. Ia terus melangkah menapaki jalan yang membelah kebunkurma itu. Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat titik hitam. Ia terus berjalan dan titik hitam itusemakin membesar dan mendekat. Matanya lalu menangkap di kejauhan sana perlahan bayanganitu menjadi seorang sedang menunggang kuda. Lalu sayup-sayup telinganya menangkap suara,“Toloong! Toloong!!”Suara itu datang dari arah penunggang kuda yang ada jauh di depannya. Ia menghentikanlangkahnya. Penunggang kuda itu semakin jelas.“Toloong! Toloong!!”Suara itu semakin jelas terdengar. Suara seorang perempuan. Dan matanya dengan jelas bisamenangkap penunggang kuda itu adalah seorang perempuan. Kuda itu berlari kencang.“Toloong! Toloong hentikan kudaku ini! Ia tidak bisa dikendalikan!”Mendengar itu Zahid tegang. Apa yang harus ia perbuat. Sementara kuda itu semakin dekatdan tinggal beberapa belas meter di depannya. Cepat-cepat ia menenangkan diri dan membacashalawat. Ia berdiri tegap di tengah jalan. Tatkala kuda itu sudah sangat dekat ia mengangkattangan kanannya dan berkata keras,“Hai kuda makhluk Allah, berhentilah dengan izin Allah!”Bagai pasukan mendengar perintah panglimanya, kuda itu meringkik dan berhenti seketika.Perempuan yang ada dipunggungnya terpelanting jatuh. Perempuan itu mengaduh. Zahidmendekati perempuan itu dan menyapanya,“Assalamu’alaiki. Kau tidak apa-apa?”Perempuan itu mengaduh. Mukanya tertutup cadar hitam. Dua matanya yang bening menatapZahid. Dengan sedikit merintih ia menjawab pelan,“Alhamdulillah, tidak apa-apa. Hanya saja tangan kananku sakit sekali. Mungkin terkilir saatjatuh.”“Syukurlah kalau begitu.”Dua mata bening di balik cadar itu terus memandangi wajah tampan Zahid. Menyadari hal ituZahid menundukkan pandangannya ke tanah. Perempuan itu perlahan bangkit. Tanpasepengetahuan Zahid, ia membuka cadarnya. Dan tampaklah wajah cantik nan memesona,“Tuan, saya ucapkan terima kasih. Kalau boleh tahu siapa nama Tuan, dari mana dan mau kemana Tuan?”Zahid mengangkat mukanya. Tak ayal matanya menatap wajah putih bersih memesona.Hatinya bergetar hebat. Syaraf dan ototnya terasa dingin semua. Inilah untuk pertama kalinya iamenatap wajah gadis jelita dari jarak yang sangat dekat. Sesaat lamanya keduanya beradupandang. Sang gadis terpesona oleh ketampanan Zahid, sementara gemuruh hati Zahid tak kalahhebatnya. Gadis itu tersenyum dengan pipi merah merona, Zahid tersadar, ia cepat-cepatmenundukkan kepalanya. “Innalillah. Astagfirullah,” gemuruh hatinya.“Namaku Zahid, aku dari masjid mau mengunjungi saudaraku yang sakit.”“Jadi, kaukah Zahid yang sering dibicarakan orang itu? Yang hidupnya cuma di dalammasjid?”“Tak tahulah. Itu mungkin Zahid yang lain.” kata Zahid sambil membalikkan badan. Ia lalumelangkah.“Tunggu dulu Tuan Zahid! Kenapa tergesa-gesa? Kau mau kemana? Perbincangan kitabelum selesai!”“Aku mau melanjutkan perjalananku!”Tiba-tiba gadis itu berlari dan berdiri di hadapan Zahid. Terang saja Zahid gelagapan.Hatinya bergetar hebat menatap aura kecantikan gadis yang ada di depannya. Seumur hidup iabelum pernah menghadapi situasi seperti ini.“Tuan aku hanya mau bilang, namaku Afirah. Kebun ini milik ayahku. Dan rumahku ada disebelah selatan kebun ini. Jika kau mau silakan datang ke rumahku. Ayah pasti akan senangdengan kehadiranmu. Dan sebagai ucapan terima kasih aku mau menghadiahkan ini.”Gadis itu lalu mengulurkan tangannya memberi sapu tangan hijau muda.“Tidak usah.”“Terimalah, tidak apa-apa! Kalau tidak Tuan terima, aku tidak akan memberi jalan!”Terpaksa Zahid menerima sapu tangan itu. Gadis itu lalu minggir sambil menutup kembalimukanya dengan cadar. Zahid melangkahkan kedua kakinya melanjutkan perjalanan.***Saat malam datang membentangkan jubah hitamnya, kota Kufah kembali diterangi sinarrembulan. Angin sejuk dari utara semilir mengalir.Afirah terpekur di kamarnya. Matanya berkaca-kaca. Hatinya basah. Pikirannya bingung.Apa yang menimpa dirinya. Sejak kejadian tadi pagi di kebun kurma hatinya terasa gundah.Wajah bersih Zahid bagai tak hilang dari pelupuk matanya. Pandangan matanya yang teduhmenunduk membuat hatinya sedemikian terpikat. Pembicaraan orang-orang tentang kesalehanseorang pemuda di tengah kota bernama Zahid semakin membuat hatinya tertawan. Tadi pagi iamenatap wajahnya dan mendengarkan tutur suaranya. Ia juga menyaksikan wibawanya. Tiba-tibaair matanya mengalir deras. Hatinya merasakan aliran kesejukan dan kegembiraan yang belumpernah ia rasakan sebelumnya. Dalam hati ia berkata,“Inikah cinta? Beginikah rasanya? Terasa hangat mengaliri syaraf. Juga terasa sejuk di dalamhati. Ya Rabbi, tak aku pungkiri aku jatuh hati pada hamba-Mu yang bernama Zahid. Dan inilahuntuk pertama kalinya aku terpesona pada seorang pemuda. Untuk pertama kalinya aku jatuhcinta. Ya Rabbi, izinkanlah aku mencintainya.”Air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Ia teringat sapu tangan yang ia berikan padaZahid. Tiba-tiba ia tersenyum,“Ah sapu tanganku ada padanya. Ia pasti juga mencintaiku. Suatu hari ia akan datangkemari.”Hatinya berbunga-bunga. Wajah yang tampan bercahaya dan bermata teduh itu hadir dipelupuk matanya.***Sementara itu di dalam masjid Kufah tampak Zahid yang sedang menangis di sebelah kananmimbar. Ia menangisi hilangnya kekhusyukan hatinya dalam shalat. Ia tidak tahu harus berbuatapa. Sejak ia bertemu dengan Afirah di kebun kurma tadi pagi ia tidak bisa mengendalikangelora hatinya. Aura kecantikan Afirah bercokol dan mengakar sedemikian kuat dalam relungrelunghatinya. Aura itu selalu melintas dalam shalat, baca Al-Quran dan dalam apa saja yang iakerjakan. Ia telah mencoba berulang kali menepis jauh-jauh aura pesona Afirah denganmelakukan shalat sekhusyu’-khusyu’-nya namun usaha itu sia-sia.“Ilahi, kasihanilah hamba-Mu yang lemah ini. Engkau Mahatahu atas apa yang menimpadiriku. Aku tak ingin kehilangan cinta-Mu. Namun Engkau juga tahu, hatiku ini tak mampumengusir pesona kecantikan seorang makhluk yang Engkau ciptakan. Saat ini hamba sangatlemah berhadapan dengan daya tarik wajah dan suaranya Ilahi, berilah padaku cawan kesejukanuntuk meletakkan embun-embun cinta yang menetes-netes dalam dinding hatiku ini. Ilahi,tuntunlah langkahku pada garis takdir yang paling Engkau ridhai. Aku serahkan hidup matikuuntuk-Mu.” Isak Zahid mengharu biru pada Tuhan Sang Pencipta hati, cinta, dan segalakeindahan semesta.Zahid terus meratap dan mengiba. Hatinya yang dipenuhi gelora cinta terus ia paksa untukmenepis noda-noda nafsu. Anehnya, semakin ia meratap embun-embun cinta itu semakin derasmengalir. Rasa cintanya pada Tuhan. Rasa takut akan azab-Nya. Rasa cinta dan rindu-Nya padaAfirah. Dan rasa tidak ingin kehilangannya. Semua bercampur dan mengalir sedemikian hebatdalam relung hatinya. Dalam puncak munajatnya ia pingsan.Menjelang subuh, ia terbangun. Ia tersentak kaget. Ia belom shalat tahajjud. Beberapa orangtampak tengah asyik beribadah bercengkerama dengan Tuhannya. Ia menangis, ia menyesal.Biasanya ia sudah membaca dua juz dalam shalatnya.“Ilahi, jangan kau gantikan bidadariku di surga dengan bidadari dunia. Ilahi, hamba lemahmaka berilah kekuatan!”Ia lalu bangkit, wudhu, dan shalat tahajjud. Di dalam sujudnya ia berdoa,“Ilahi, hamba mohon ridha-Mu dan surga. Amin. Ilahi lindungi hamba dari murkamu danneraka. Amin. Ilahi, jika boleh hamba titipkan rasa cinta hamba pada Afirah pada-Mu, hambaterlalu lemah untuk menanggung-Nya. Amin. Ilahi, hamba memohon ampunan-Mu, rahmat-Mu,cinta-Mu, dan ridha-Mu. Amin.”***Pagi hari, usai shalat dhuha Zahid berjalan ke arah pinggir kota. Tujuannya jelas yaitumelamar Afirah. Hatinya mantap untuk melamarnya. Di sana ia disambut dengan baik olehkedua orangtua Afirah. Mereka sangat senang dengan kunjungan Zahid yang sudah terkenalketakwaannya di seantero penjuru kota. Afiah keluar sekejab untuk membawa minuman lalukembali ke dalam. Dari balik tirai ia mendengarkan dengan seksama pembicaraan Zahid denganayahnya. Zahid mengutarakan maksud kedatangannya, yaitu melamar Afirah.Sang ayah diam sesaat. Ia mengambil nafas panjang. Sementara Afirah menanti denganseksama jawaban ayahnya. Keheningan mencekam sesaat lamanya. Zahid menundukkan kepalaia pasrah dengan jawaban yang akan diterimanya. Lalu terdengarlah jawaban ayah Afirah,“Anakku Zahid, kau datang terlambat. Maafkan aku, Afirah sudah dilamar Abu Yasir untukputranya Yasir beberapa hari yang lalu, dan aku telah menerimanya.”Zahid hanya mampu menganggukan kepala. Ia sudah mengerti dengan baik apa yangdidengarnya. Ia tidak bisa menyembunyikan irisan kepedihan hatinya. Ia mohon diri denganmata berkaca-kaca. Sementara Afirah, lebih tragis keadaannya. Jantungnya nyaris pecahmendengarnya. Kedua kakinya seperti lumpuh seketika. Ia pun pingsan saat itu juga.***Zahid kembali ke masjid dengan kesedihan tak terkira. Keimanan dan ketakwaan Zahidternyata tidak mampu mengusir rasa cintanya pada Afirah. Apa yang ia dengar dari ayah Afirahmembuat nestapa jiwanya. Ia pun jatuh sakit. Suhu badannya sangat panas. Berkali-kali iapingsan. Ketika keadaannya kritis seorang jamaah membawa dan merawatnya di rumahnya. Iasering mengigau. Dari bibirnya terucap kalimat tasbih, tahlil, istigfhar dan … Afirah.Kabar tentang derita yang dialami Zahid ini tersebar ke seantero kota Kufah. Angin punmeniupkan kabar ini ke telinga Afirah. Rasa cinta Afirah yang tak kalah besarnya membuatnyamenulis sebuah surat pendek,Kepada Zahid,Assalamu’alaikumAku telah mendengar betapa dalam rasa cintamu padaku. Rasa cinta itulah yangmembuatmu sakit dan menderita saat ini. Aku tahu kau selalu menyebut dirikudalam mimpi dan sadarmu. Tak bisa kuingkari, aku pun mengalami hal yangsama. Kaulah cintaku yang pertama. Dan kuingin kaulah pendamping hidupkuselama-lamanya.Zahid,Kalau kau mau. Aku tawarkan dua hal padamu untuk mengobati rasa haus kitaberdua. Pertama, aku akan datang ke tempatmu dan kita bisa memadu cinta. Ataukau datanglah ke kamarku, akan aku tunjukkan jalan dan waktunya.WassalamAfirah
===============================================================
Surat itu ia titipkan pada seorang pembantu setianya yang bisa dipercaya. Ia berpesan agarsurat itu langsung sampai ke tangan Zahid. Tidak boleh ada orang ketiga yang membacanya. Danmeminta jawaban Zahid saat itu juga.Hari itu juga surat Afirah sampai ke tangan Zahid. Dengan hati berbunga-bunga Zahidmenerima surat itu dan membacanya. Setelah tahu isinya seluruh tubuhnya bergetar hebat. Iamenarik nafas panjang dan beristighfar sebanyak-banyaknya. Dengan berlinang air mata iamenulis untuk Afirah :Kepada Afirah,Salamullahi’alaiki,Benar aku sangat mencintaimu. Namun sakit dan deritaku ini tidaklah sematamatakarena rasa cintaku padamu. Sakitku ini karena aku menginginkan sebuahcinta suci yang mendatangkan pahala dan diridhai Allah ‘Azza Wa Jalla’. Inilahyang kudamba. Dan aku ingin mendamba yang sama. Bukan sebuah cinta yangmenyeret kepada kenistaan dosa dan murka-Nya.Afirah,Kedua tawaranmu itu tak ada yang kuterima. Aku ingin mengobati kehausan jiwaini dengan secangkir air cinta dari surga. Bukan air timah dari neraka. Afirah,“Inni akhaafu in ‘ashaitu Rabbi adzaaba yaumin ‘adhim!” ( Sesungguhnya akutakut akan siksa hari yang besar jika aku durhaka pada Rabb-ku. Az Zumar : 13 )Afirah,Jika kita terus bertakwa. Allah akan memberikan jalan keluar. Tak ada yang bisaaku lakukan saat ini kecuali menangis pada-Nya. Tidak mudah meraih cintaberbuah pahala. Namun aku sangat yakin dengan firmannya :“Wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik, dan lakilakiyang tidak baik adalah buat wanita-wanita yang tidak baik (pula), dan wanitawanitayang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalahuntuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apayang dituduhkan oleh mereka. Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (yaitusurga).”Karena aku ingin mendapatkan seorang bidadari yang suci dan baik maka akuakan berusaha kesucian dan kebaikan. Selanjutnya Allahlah yang menentukan.Afirah,Bersama surat ini aku sertakan sorbanku, semoga bisa jadi pelipur lara danrindumu. Hanya kepada Allah kita serahkan hidup dan mati kita.Wassalam,Zahid
===============================================================
Begitu membaca jawaban Zahid itu Afirah menangis. Ia menangis bukan karena kecewa tapimenangis karena menemukan sesuatu yang sangat berharga, yaitu hidayah. Pertemuan danpercintaannya dengan seorang pemuda saleh bernama Zahid itu telah mengubah jalan hidupnya.Sejak itu ia menanggalkan semua gaya hidupnya yang glamor. Ia berpaling dari dunia danmenghadapkan wajahnya sepenuhnya untuk akhirat. Sorban putih pemberian Zahid ia jadikansajadah, tempat dimana ia bersujud, dan menangis di tengah malam memohon ampunan danrahmat Allah SWT. Siang ia puasa malam ia habiskan dengan bermunajat pada Tuhannya. Diatas sajadah putih ia menemukan cinta yang lebih agung dan lebih indah, yaitu cinta kepadaAllah SWT. Hal yang sama juga dilakukan Zahid di masjid Kufah. Keduanya benar-benar larutdalam samudera cinta kepada Allah SWT.Allah Maha Rahman dan Rahim. Beberapa bulan kemudian Zahid menerima sepucuk suratdari Afirah :Kepada Zahid,Assalamu’alaikum,Segala puji bagi Allah, Dialah Tuhan yang memberi jalan keluar hamba-Nya yangbertakwa. Hari ini ayahku memutuskan tali pertunanganku dengan Yasir. Beliautelah terbuka hatinya. Cepatlah kau datang melamarku. Dan kita laksanakanpernikahan mengikuti sunnah Rasululullah SAW. Secepatnya.Wassalam,Afirah
===============================================================
Seketika itu Zahid sujud syukur di mihrab masjid Kufah. Bunga-bunga cinta bermekarandalam hatinya. Tiada henti bibirnya mengucapkan hamdalah. (Habiburrahman El-Shirazy)